Keutamaan Hari Jumat

“Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itu Nabi Adam ‘Alaihi Wasallam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke sorga, pada hari itu dia dikeluarkan dari surga, dan hari qiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at. (HR. Muslim no. 854, dan yang lainnya).

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah, menerangkan beberapa perbedaan Ulama tentang keutamaan hari Jum’at dengan hari ‘Arafah. Beliau mengatakan bila ada yang bertanya, “Mana yang lebih afdhal (utama) hari Jum’at atau hari ‘Arafah?.”

Sebuah riwayat dari Ibnu Hibban dalam “shahihnya” dari hadits Abu Hurairah ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada hari yang lebih mulia selama matahari terbit dan terbenam selain hari Jum’at”.(HR.Ibnu Hibban dalam Shahihnya hal.551 dan dihasankan oleh Arnauuth).

Hadits lain dari Aus bin Aus, “Sebaik-baik hari -selama matahari masih terbit- adalah hari Jum’at”. ( ini adalah lafadz Muslim dari Abu Hurairah, sedangkan lafadz Ibnu Hibban “sesungguhnya sebaik-baik hari-hari kalian adalah hari Jum’at”.)

Ada yang mengatakan, sebagian ulama berpendapat bahwa hari Jum’at lebih utama dari hari Arafah, berdasarkan hadist ini. Qadhi Abu Ya’la menyebutkan sebuah riwayat Imam Ahmad bahwa malam Jum’at lebih utama dari malam lailatur qadar.

Yang benar bahwa hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam seminggu, sedangkan hari ‘Arafah dan ‘Idul adha adalah hari yang paling utama dalam setahun, demikian juga halnya dengan malam lailatul qadar dan malam Jum’at, dengan demikian bila hari Jum’at bertepatan dengan hari ‘Arafah, sudah tentu hari itu lebih utama dari hari-hari lainnya dari berbagai segi.. (Zaadul Ma’ad, 1/hal:59-60).

Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Beliau bersabda:
“Penghulunya hari adalah hari Jum’at, ia adalah hari yang paling utama disisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung disisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, pada hari Jum’at tersebut terdapat lima keistimewaan:
- Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan,
- Nabi Adam ‘Alaihissalam diturunkan ke dunia,
- Nabi Adam ‘Alaihissalam diwafatkan,
- Pada hari itu terdapat suatu waktu, tidaklah seorang hamba meminta kepada Allah pada saat tersebut melainkan pasti akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, selama yang diminta bukan yang haram,
- Pada hari itu akan terjadi kiamat,
- Tidak ada satupun dari malaikat, bumi, angin, laut, gunung maupun pepohonan kecuali mereka takut pada hari Jum’at. (HR. Ahmad dalam al-musnad, 3/430, Ibnu majah 1084, sedangkan syekh Al-bany mendha’ifkannya dalam Dha’iiful jaami’, 3317, dan Ar-nauuth juga menghasankannya).

Demikianlah Allah menjadikan hari Jum’at untuk umat ini dan mengkhususkannya untuk mereka, dan Allah memalingkan orang-orang Yahudi dan Nashara dari hari tersebut.

Dari Abu Hurairah dan Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu, mereka berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Allah telah menyesatkan/memalingkan hari Jum’at dari orang-orang sebelum kita, maka untuk orang-orang Yahudi hari Sabtu dan untuk orang Nashara hari Ahad, dengan begitu mereka akan mengikuti kita pada hari kiamat. (HR. Muslim, 856)

Dalam lafadz muttafaqun ‘alaihi dari hadist Abu hurairah (marfu’), “Kita adalah orang-orang yang datang belakangan akan tetapi menjadi orang terdepan pada hari kiamat, hanya saja mereka diberikan kitab sebelum kita, dan kita diberikan kitab sesudah mereka, inilah hari yang diwajibkan kepada mereka (hari Jum’at), lalu mereka berselisih tentangnya, lalu Allah menunjuki kita kepadanya, maka mereka akhirnya mengikuti kita, kaum Yahudi besok (Sabtu), dan kaum Nasrani besoknya lagi (Ahad).

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha beliau mengatakan:

“Tatkala aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tiba-tiba seorang laki-laki dari Yahudi minta izin kepada Beliau, maka Beliaupun mengizinkannya, lalu orang itu berkata: ÇáÓÇã Úáíß (racun/kematian/kecelakaan bagimu), lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “bagimu juga”. -’Aisyah mengatakan: sebenarnya aku ingin angkat bicara-, kemudian masuk untuk kedua kalinya dan mengatakan hal yang sama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetap menjawab dengan: “dan bagimu juga”, -sebenarnya saya ingin angkat bicara-, kemudian masuk yang ketiga kalinya, lalu mengatakan: ÇáÓÇã Úáíßã (racun/ kematian/ kecelakaan bagi kalian), maka aku langsung membalas: akan tetapi ÇáÓÇã Úáíßã (racun/ kematian/ kecelakaan adalah untuk kalian), dan kemarahan Allah, hai para saudara kera dan babi, apakah kalian memberikan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan salam yang tidak pernah diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, melihat kepada saya dan mengatakan, cukup !, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai perbuatan keji serta melakukan kekejian, mereka mengucapkan kata-kata, lalu kita balikkan kepada mereka, hal itu tidak akan mencelakakan kita sedikitpun, tetapi hal itu akan berlangsung untuk mereka sampai hari kiamat, sebenarnya mereka tidak iri dan dengki kepada kita dalam suatu hal, sebagaimana iri dan dengkinya mereka terhadap hari Jum’at di mana Allah telah menunjuki kita kepadanya, sedangkan mereka tersesat darinya.” (HR. Ahmad 6/134-135, Arnauth mengatakan: sanadnya hasan, dia punya beberapa syahid dalam As-shahih dan yang lainnya).

About these ads

About Sabila Komputama

Hanung Anggo Yudanto HP : 081226062343

Posted on 20 Maret 2009, in Islam Kaffah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.315 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: