Nasehat yang Menyentuh Hati

Dikehidupan ini telah ditetapkan dua nasehat untuk manusia. Nasehat pertama nasehat yang disebut nasehat Qauliyah dan nasehat isyarafiah. Adapun nasehat Qauliyah adalah Al-Qur’an dan nasehat Isyarafiah adalah kematian seseorang.

Nasehat Qauliyah bisa juga disebut nasehat yang berbicara. Yaitu ayat-ayat yang disampaikan oleh alim ulama dan para ustad di majelis ilmu.

Nasehat Isyarafiah adalah nasehat yang diam. Yaitu nasehat ketika kita melihat saudara ataupun tetangga kita yang telah meninggal, kemudian kita ikut mensholatkan jenazah sampai kepada kepemakaman.

Ketika nasehat itu menyentuh kalbuku. Ketika aku ikut mensholatkan dan mengantarkan kepemakaman orang yang meninggal. Pada saat itulah Allah swt, memberikan kita kebaikan sebesar 2 qirath. (1 qirath = seperti besarnya 1 gunung Uhud). Inilah bukti nyata Allah swt sangat memudahkan hambanya dalam mendapatkan kebaikan. Kebaikan jika baru niat saja, Allah swt sudah mencatatnya sebagai pahala dan akan berlipat ganda bila niat itu di jalankan dengan ikhlas.

Namun tidak dengan perbuatan buruk. Kita kan berdosa bilamana kita telah berbuat keburukan. Namun bila masih niat belum dihitung dosa. bahkan akan menjadi pahala bilamana kita bertaubat atas niat buruk kita tersebut.

Hikmah yang dapat aku ambil dari peristiwa itu adalah:

1. Kita hanya hidup sebentar dan pasti akan kembali pada Allah.
2. Ketika mati apa yang kita bawa? amalan atau beribu dosa?
3. Kira-kira akankan kuburan kita seperti taman-tamannya syurga? atau tempat yang menghinakan?
4. Akankan setelah kita mati nama kita masih disebut? lantaran kebaikan kita.
5. Segeralah kita beristighfar, bertaubat kembali kepada-Nya. minimal 100x sehari.

note: mohon dikoreksi bilamana ada kesalahan penulisan istilah bahasa arab.

About these ads

Tentang Sabila Komputama

Hanung Anggo Yudanto HP : 081226062343

Posted on 16 April 2009, in Islam Kaffah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Kalaulah kejahatan dan kebaikan itu dinilai dengan akal, seluruh kebaikan dan kejahatan tidak akan dapat dinilai dengan tepat, akan berlakulah sebahagian kebaikan dianggap kejahatan, dan sebahagian kejahatan dianggap kebaikan, dan berlakulah krisis nilai yang akan membawa krisis moral dan masyarakat. Oleh itu ukurlah dengan neraca iman dan syariat.

    (Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.314 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: