Buku Memang Laris, Ebook Peluang Bisnis Manis

Buku bagi penulis adalah lencana kehormatan. Karenanya, belum lengkap rasanya menjadi penulis bila belum menulis dan menerbitkan paling tidak sebuah buku. Pada kenyataannya tak semua penulis menerbitkan buku. Tantangan pertama ada pada menulis itu sendiri. Lho kok bisa? Kan sudah jadi penulis. Iya, menulis buku berbeda dengan menulis artikel lepas. Menulis buku menuntut waktu dan kerja lebih. Tak sekadar menyatukan tulisan-tulisan lepas dalam satu jilid, seperti karya kliping artikel koran anak-anak SD. Tetapi dibutuhkan sebuah pemikiran utuh kala menulis buku. Sehingga bagian tulisan yang satu dengan bagian yang lain jelas hubungannya dan menyatu. Yang dibutuhkan pada tahap ini adalah sebuah ide besar disamping keterampilan menulis yang telah dimiliki.

Tantangan berikutnya datang setelah naskah buku berhasil diselesaikan. Yaitu bagaimana menerbitkannya. Pilihan pertama biasanya adalah mengirimkan naskah tersebut ke penerbit. Masalahnya tidak semua naskah yang masuk ke penerbit akan diterbitkan. Hanya sebagian kecil saja yang diputuskan untuk diterbitkan. Keputusan penerbitanpun terkadang lama bahkan sangat lama. Beberapa bulan lalu saya dapat email dari seorang teman. Tulisnya, “Aku menghubungi kamu untuk menawarkan menjadi penerbitku. Soalnya, temen aku itu ngga ada update-nya kapan kepastian naskah ini naik cetak.” Rupanya sang teman ini telah mengirimkan naskah ke penerbit tapi tak kunjung ada kabar. Padahal calon pembeli bukunya sudah antri menunggu.

Dari pada berlama-lama menunggu, ada solusi cepat yaitu dengan menerbitkan sendiri buku tersebut, istilah kerennya self-publishing. Dengan self-publishing, penulis mendapatkan kepastian penerbitan, keleluasaan dalam menulis dan keuntungan yang berlipat. Tetapi untuk melakukan self-publishing ini, seringkali penulis terkendala modal. Ambil contoh sebuah buku berharga jual Rp 30.000. Jumlah produksi 3.000 eksemplar. Biaya produksi/cetak 25% dari harga jual. Maka dibutuhkan setidaknya dana 22,5 juta rupiah untuk pengerjaan produksi. Bila penulis tak memiliki uang tabungan yang cukup untuk membiayai penerbitan atau tidak mendapatkan kemudahan dari percetakan atau bantuan pihak lain, maka ia akan berada dalam kesulitan.

Untung saja, ada jalan keluar yang gampang-gampang mudah. Menerbitkan buku dalam format elektronik, atau yang dikenal dengan ebook. Biaya-biaya produksi dan distribusi akan terpangkas besar-besaran. Bayangkan saja biaya produksi buku sebesar 22,5 juta rupiah dapat ditekan bahkan menjadi nol rupiah! Benar, saya tidak mengada-ada. Ebook itu bukanlah produk fisik. Ia produk digital yang bentuknya adalah file sebagaimana file-file yang ada di komputer kita. Berapa biaya yang Anda keluarkan untuk menulis sebuah file Word di komputer Anda? Sebesar itulah biaya pembuatan ebook. Dan karena wujud ebook berupa file, maka biaya distribusi juga dapat ditekan mendekati nol rupiah! Setiap pembeli ebook dapat membeli langsung ke penulis dan mendapatkannya dengan cara download. Bandingkan dengan distributor buku yang meminta diskon hingga 55% dari harga jual buku. So, apabila penulis mampu membuat sendiri ebook dan memasarkannya maka ia akan mendapat keuntungan hampir 100%.

Tetapi tunggu dulu, teman yang mengirim email tadi sebenarnya (akhirnya) telah menerbitkan naskah bukunya yang terkatung-katung dalam bentuk ebook. Tambahnya, “Kamu benar, memang buku berupa cetakan memiliki nilai tersendiri, apalagi banyak calon pembeli yang SUPER GAPTEK, ngga tahu gimana cara donlod, cara pesen, bahkan cara TRANSFER! Do you believe it? Padahal, banyak di antara mereka adalah mahasiswa. Pfffh…,” katanya dalam email. Tambahnya, “Keinginanku untuk menerbitkan dalam bentuk cetakan terutama adalah desakan dari mahasiswa. Pernah aku dihubungi seorang mahasiswa Unas yang lagi nyusun skripsi. Dia menemukan blog-ku dan mendapatkan referensi dari situ. Referensi tentang bahasan ‘kriteria ide yang baik’ tsb. hanya dia temui di blog-ku dan tidak bisa dia temukan di buku-buku yang udah published. Sewaktu dia nanya ke dosennya, bolehkah tulisan di blog jadi referensi? Dosennya menjawab tidak, harus dari buku yang sudah published. Dia jadi kebingungan. Begitulah. Bahkan eBook pun tidak diterima dosen tersebut. Konyol? Entahlah.” Nah loh masih mau menerbitkan ebook?

Seorang peserta Self-Publishing Workshop, penulis produktif yang telah menelurkan 135 lebih judul buku, punya pengalaman menarik. Bukunya yang telah diterbitkan penerbit terkenal dan dijanjikan mendapat laporan penjualan tiap 3 bulan, ternyata sudah lebih dari 6 bulan tidak ada kabar penjualan. Dan banyak keluhan lain dari penulis pada penerbit selain keluhan klasiknya yang memprotes bagi hasil yang cuma 10% dari penerbit.

Memang, saat ini format ebook belumlah populer dan tidak dapat menggeser begitu saja tradisi membaca buku dengan menyentuh dan membolak-balikkan halamannya. Tapi tak ada salahnya bila para penulis mengetahui sejak awal perkara ebook ini. Sepertinya pasarnya akan membesar. Beberapa penulis telah memulai menjual ebooknya sendiri. Bahkan katanya ada yang telah mendapat miliaran rupiah dari ebook berbahasa Indonesia yang ditulis dan dijualnya. Benarkah?

About Sabila Komputama

Hanung Anggo Yudanto HP : 081226062343

Posted on 7 Maret 2009, in Bisnis Online, Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: