Ekonomi Syariah

Ekonomi syariah tak hanya mencapai kesejahteraan materi, tapi juga mewujudkan dimensi ibadah sebagai manifestasi kesejahteraan spiritual
Hidayatullah.com–

Krisis finasial global diyakini akibat rapuhnya sistem ekonomi dan mekanisme pasar yang tidak berpihak pada kesejahteraan. Hal itu kemudian menstimulasi terjadinya perlawanan kepada neoliberalisme, kapitalisme, privatisasi, liberalisasi, deregulasi, dan persaingan bebas di banyak negara, termasuk Indonesia. Meski demikian, namun masih banyak yang mempertanyakan kenapa hal itu bisa terjadi. Bukankah selama ini, sistem ekonomi tersebut didukung dengan konsep dan format ekonomi yang up-to date dan maju.

Demikian pernyataan Wasiaturrahma, Dosen Fakultas Ekonomi Unair, Surabaya dalam seminar “Mensiasati Krisis Financial Global Dengan Ekonomi Syariah” di Universitas Dr. Soetomo, Senin (15/3).

Menurut Wasiaturrahmah, sistem ekonomi konvensional hanya mensejahterakan materi saja. Sehingga dalam praktik ekonominya menimbulkan banyak kerapuhan dan kesenjangan. Menurut Wasiat, selama 2 abad, ekonomi konvensional bukan saja menunjukkan kerapuhan namun juga asumsi dasar teoritisnya patut dipertanyakan efektifitasnya.

Menurut dosen Unair ini, hal tersebut berbeda dengan ekonomi syariah. Ekonomi syariah meletakkan sistem ekonomi yang tidak hanya mencapai kesejahteraan materi, tapi juga mewujudkan dimensi ibadah sebagai manifestasi kesejahteraan spiritual. Atau lebih tepatnya, ekonomi syariah memiliki peran ganda yaitu di dunia dan akhirat. Karena dua hal tersebutlah, para pelaku ekonomi dalam melakukan kegiatan ekonomi selalu meng-orientasikan pada akhirat (pahala) sehingga menghindarkan dari praktik-praktik curang.

Sebagai penjelasan dari ekonomi syariah secara holistik, Wasiat menjelaskan lima nilai universal yang menjadi dasar inspirasi dalam menyusun kerangka teori ekonomi syariah.Pertama, nilai tauhid. nilai ini menggambarkan bahwa Allah SWT sebagai tuhan pencipta dan pemilik alam jagad raya. Sehingga seluruh aktivitas diorientasikan hanya kepada Allah.Kedua, adil. Nilai ini, terangkum dalam (QS. Al-Maidah,8), dalam ayat tersebut menegaskan bahwa semua perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban (akuntabilitas). Ketiga, nubuwwah. Mengikuti sifat-sifat nabi seperti, siddiq (jujur), tabligh (keterbukaan/menyampaikan), amanah (terpercaya), fathonah (cerdas). Keempat, Khilafah. Manusia sebagai pemimpin sesuai dengan kapasitasnya berfungsi menjaga keteraturan interaksi muamalah khsusnya dalam bidang ekonomi.

Kelima, Ma’ad (kembali). Ma’ad juga berarti ganjarang atau dalam bentuk motivasi ekonomi yaitu keuntungan di dunia dan akhirat (ibadah). [ans/www.hidayatullah]

About Sabila Komputama

Hanung Anggo Yudanto HP : 081226062343

Posted on 20 Maret 2009, in Islam Kaffah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: