Menjadi Murah dan Berkualitas

Bagaimana Menjadi Murah dan Berkualitas

Pepatah lama mengatakan: “ada harga ada rupa”. Apabila mendengar pepatah maka pikiran kita akan merujuk kepada hubungan transaksi antara produsen dan konsumen, dimana untuk setiap barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen pasti terdapat strata kualitas yang pembedanya biasanya ditentukan oleh harga.

Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya kita telah mahfum dan menerima hal ini sebagai kondisi yang wajar, istilahnya sudah taken for granted, bahwa untuk setiap jasa atau produk yang lebih memuaskan atau lebih sophisticated pasti diperlukan biaya produksi yang lebih tinggi pula bila dibandingkan dengan jasa atau produk yang sifatnya biasa-biasa saja.

Namun dalam beberapa tahun belakangan anggapan ini tampaknya sudah mulai dapat dipatahkan. Apa pasal? tidak lain dan tidak bukan dalam 5 tahun terakhir ini konsumen kita dihadapkan pada sebuah fenomena besar: yaitu kendaraan murah (mobil dan sepeda motor). Fenomena tersebut seakan membalik kesadaran konsumen akan pakem “ada harga ada rupa”. Bahwa produk yang murah pasti kualitasnya lebih rendah daripada produk yang lebih mahal.

Produk kendaraan atau otomotif menjadi fenomena karena sebelum era “murah”, kendaraan merupakan salah satu ikon produk yang harus ditebus dengan harga yang cukup tinggi. Alih-alih untuk mendapatkan kualitas. Kondisi ini diperkuat pada era masuknya sepeda motor China pada awal tahun 2000, di mana harga produk yang murah harus diiringi dengan konsekuensi kekecewaan konsumen karena mutunya sangat buruk.

Namun lihatlah apa yang terjadi saat ini, pabrikan sepeda motor Jepang menjawab ‘tantangan’ kebutuhan konsumen akan produk yang murah dan berkualitas dengan meluncurkan produk-produk sepeda motor ‘paket hemat’ yang pada tahun 2002-2003 dimulai dengan meluncurkan sepeda motor tipe bebek dengan harga antara Rp9 juta s/d Rp10 juta, dibandingkan dengan harga motor bebek yang full spec Rp12,5 juta. Kemudian pabrikan Suzuki meluncurkan tipe sport 125cc (Thunder 125) dengan harga setara sepeda motor bebek full spec. Dan pada tahun 2006-2007 pabrikan Yamaha meluncurkan sepeda motor tipe bebek dan sport yang lengkapi dengan teknologi terbaru dengan harga yang sangat kompetitif.

Fenomena serupa juga terjadi pada produk mobil. Fenomena terbesar yaitu pada saat Toyota dan Daihatsu meluncurkan produk kembar yang diproduksi di pabrik Daihatsu Indonesia: Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Produk tersebut pada awal kemunculannya di tahun 2004 dibanderol antara Rp75 juta s/d Rp95 juta (tergantung tipe dan spesifikasi). Cukup jauh berselisih harga dengan merek lain yang memang didesain khusus untuk mobil penumpang dan menawarkan sejumlah akomodasi kenyamanan kepada penumpangnya.

Dengan berjalannya waktu, terbukti pada produk-produk tersebut ternyata cukup reliable dan memuaskan para penggunanya. Salah satu indikatornya adalah harga jual kembali (resale value) dari kendaraan-kendaraan tersebut yang tetap terjaga. Pertanyaannya kemudian, apakah yang memungkinkan terjadinya fenomena ini? sebenarnya memang banyak faktor yang berpengaruh, seperti kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam industri yang bersangkutan seperti tarif bea masuk, pajak dan lainnya. Namun satu hal yang krusial dan diterapkan secara konsisten oleh pabrikan-pabrikan Jepang, khususnya Toyota (yang saat ini juga memiliki saham mayoritas di pabrikan sepeda motor Yamaha) adalah efisiensi dalam operasional di pabrik-pabrik perakitan mereka, yang dikenal dengan konsep lean manufacturing.
Konsep lean manufacturing sebenarnya adalah konsep yang sederhana, yaitu menerapkan filosofi penjadwalan yang ketat dan produksi dalam batch yang lebih kecil daripada sebelumnya yang memungkinkan biaya produksi lebih murah daripada sebelumnya. Elemen-elemen dalam lean manufacturing ini juga bukan konsep yang revolusioner seperti konsep just in time pada penyimpanan inventory dan pengapalan produk.

Tetapi dalam industri automotif, konsep ini merupakan suatu terobosan setelah konsep Fordism yang telah dianut hampir seabad oleh pabrikan-pabrikan automotif di seluruh dunia, terutama tentu saja pabrikan mobil di Detroit Amerika Serikat. Perbedaan yang menonjol adalah jalur perakitan yang menyusut dari sebelumnya menggunakan 7 jalur (Fordism) menjadi hanya 5 jalur (lean manufacturing). Ternyata dengan efisiensi jalur perakitan seperti ini, selain memangkas ongkos produksi, aktivitas quality control juga dapat dilakukan secara lebih akurat. Produksi dalam batch-batch yang lebih kecil sangat efektif untuk mereduksi lag dalam jalur produksi, karena kekurangan atau over supply dari proses sebelumnya.

Namun lebih daripada itu, menurut Hajime Oba, Chief Executive Organization dari Toyota Amerika di era 2001, jiwa dari lean production yang diterapkan oleh pabrikan-pabrikan Jepang adalah semangat heijunka yang dapat diterjemahkan bebas sebagai semangat standardisasi. Semangat ini memungkinkan para pekerja untuk bekerja dalam suasana yang stabil dan tenang, tidak terpengaruh oleh kondisi psikologis ataupun faktor eksternal lainnya (dalam beberapa hal, mungkin hal ini yang juga menyebabkan orang lain melihat orang Jepang bekerja seperti robot). Bekerja dalam kondisi ini tentu juga memudahkan untuk mengendalikan kualitas pekerjaan.

Hal-hal tersebut yang membuat lean manufacturing ala Toyota dan pabrikan Jepang lainnya seperti Honda ataupun Yamaha menjadi unik. Metode operasi yang diterapkan mereka ‘hanya’ membutuhkan orang-orang biasa untuk menjalankannya, tetapi melalui metode tersebut mereka melakukannya dengan luar biasa. Hal penting lain yang dilakukan oleh mereka adalah menjaga kualitas dan kontinuitas dari supply inbound dan outbound dari produksi perakitan kendaraan mereka.

Bukan rahasia lagi bahwa pabrik-pabrikan automotif dari Jepang sangat memperhatikan dan menjaga hubungan mereka dengan suplier. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap mendapat pasokan komponen dalam kualitas dan kuantitas yang tetap terjaga.

Pertanyaan selanjutnya, berkaitan dengan terbantahkannya anggapan “ada harga ada rupa”, selain industri automotif, industri apalagi yang dapat mengadopsi model efisiensi produksi seperti ini? apakah model ini hanya dapat diterapkan pada satu jenis industri saja? pertanyaan-pertanyaan tersebut nantinya dapat dikembangkan dalam kajian-kajian yang lebih mendalam dan menarik, karena model ini sangat potensial untuk menciptakan aksesibilitas yang lebih luas dari konsumen terhadap produk, terutama untuk produk-produk yang dibutuhkan oleh orang banyak tetapi masih memiliki tingkat harga yang relatif tinggi bagi kebanyakan konsumen.

Inu Machfud R
Research & Consultant Head BMI Research Jakarta

About Sabila Komputama

Hanung Anggo Yudanto HP : 081226062343

Posted on 23 Maret 2009, in Bisnis Offline, Bisnis Online, Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: