Unik di tengah Keramaian

A. Pendahuluan
Dalam Wikipedia Indonesia, wirausaha didefinisikan sebagai jenis usaha mandiri yang didirikan oleh seorang wirausahawan, atau sering pula disebut sebagai pengusaha. Sedangkan wirausahawan adalah seseorang yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mencari cara-cara atau teknik yang lebih baik dalam pemanfaatan sumber daya, memperkecil pemborosan, serta menghasilkan barang atau jasa dalam upayanya memuaskan kebutuhan orang lain.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan wirausahawan sebagai “orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya.” Sedangkan Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan. Sementara Zimmerer mendefinisikan wirausahawan sebagai seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil resiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengindetifikasikan peluang yang signifikan sumber-sumber daya itu bisa dikapitalisasikan.

Banyak teori atau tulisan yang membahas tentang kewirausahaan, kelemahan dan kekuatan, faktor-faktor yang mendukung pertumbuhannya, sampai kepada paradigma yang sering salah difahami oleh orang-orang dalam memulai dan mengembangkan bisnisnya.

Tulisan ini merupakan analisa terhadap hasil survei yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 25 Maret 2009 di ITC Ambassador, Kuningan Jakarta Selatan dan menggabungkannya dengan teori-teori kewirausahaan yang telah ada. Diharapkan, hal ini dapat memperkuat bukti akan eksistensi bisnis mandiri khususnya usaha kecil menengah di tengah keperkasaan perusahaan-perusahaan public di dunia ini.

B. Hasil Survei
Letaknya cukup strategis. Berada di lantai dua blok A ITC Ambassador, tepat di sudut kiri escalator. Toko ini menjual berbagai benda cindera mata. Di Blok ini, ada sekitar lima toko yang menjual benda-benda cindera mata. Namun, yang membedakan, toko ini menjual cindera mata yang bukan hanya lebih beragam tapi juga lebih unik dibandingkan dengan toko lainnya. Dari mulai pin beraneka bentuk dan warna, gantungan kunci, dan pajangan ruangan yang terbuat dari keramik yang unik. Mug dan gelas berbahan keramik dan berbagai ukuran dan bentuk. Jam dinding unik, tas menarik, juga batik lukis. Bahkan perlengkapan spa pun tersedia di sini. Kesemuanya menggambarkan kekayaan etnik yang ada di Indonesia. Produk tersebut tidak diproduksi sendiri, tetapi didatngakn dari beberapa daerah yang memproduksi. Batik lukis dari Yogyakarta, keramik dari Jepara, dan Spa dari Bali. Harganya beraneka ragam, berkisar Rp 200.000,00 sampai Rp 300.000,00. Aroma toko ini pun berbeda, tercium harum bahan-bahan spa yang penuh dengan aroma khas etnis Bali.

Toko ini lebih luas dibandingkan yang lainnya, mengambil dua petak ruangan. Satu ruangnya disewa dengan harga Rp 28.000.000,00 per tahun. Pengunjung toko ini fluktuatif jumlahnya, biasanya lebih banyak pada hari-hari libur seperti hari Sabtu atau Minggu. Selain menarik pengunjung sebagai pembelinya, toko ini memiliki pelanggan tetap dari beberapa salon spa yang mengambil bahan-bahan spa nya dari sini. Sebagai toko yang menjual cindera mata, jelas perputaran benda yang dijual tidak secepat toko handphone atau makanan. Tapi karena sudah memiliki pelanggan tetap, maka biaya sewa dan manajemen fee yang harus dikeluarkan dapat tertutupi bahkan memperoleh keuntungan yang lumayan.

Pelayan toko ini ada dua orang. Keduanya wanita, satu berjilbab satunya lagi tidak. Pelayanannya biasa, tidak terlalu istimewa, bahkan cenderung ’cuek’ pada pengunjung. Hanya saja, karena benda-benda yang dijual sangat unik dan menarik, maka banyak di antara pengunjung yang aktif bertanya.

C. Pembahasan
Ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas dari hasil survei di atas, yaitu sebagai berikut:

1)Inovasi dan kreativitas
Menurut Scoott Berkun dalam bukunya, The Myth of Innovation, inovasi bukan hanya terdiri dari sekedar lontaran gagasan-gagasan atau ide-ide yang hebat saja, dibalik itu seyogyanya diperlukan kepercayaan yang kuat atas gagasan atau ide tersebut, bahwa ide itu bisa dilakukan atau dikerjakan, dan selain daripada itu juga dibutuhkan kerja keras, fokus yang tajam pada hasil akhir, dan tetap gigih ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam merealisasikannya.

Sedangkan menurut Undang-undang No.18 tahun 2002, yang dimaksud dengan inovasi adalah: “Kegiatan penelitian, pengembangan, dan/ atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”.

Istilah inovasi memang sering didefinisikan secara berbeda- beda, walaupun pada umumnya memiliki pemaknaan yang serupa, yakni sebagai suatu proses dan/ atau hasil pengembangan dan/atau pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial).

Inovasi, dalam ilmu lingustik adalah fenomena munculnya kata-kata baru dan bukan kata-kata warisan. Inovasi berbeda dengan neologisme. “Inovasi bersifat tidak sengaja”.

Selain inovasi, unsur kreativitas juga dimiliki oleh pemilik toko ini. Kata kreatif adalah untuk merujuk sifat atau perilaku seseorang yang memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan. Seorang pengusaha selalu dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi secara terus menerus. Sebab para pengusaha diharapkan dapat melakukan inovasi dengan menghasilkan hal-hal baru yang berguna bagi masyarakat luas, atau menemukan cara-cara baru yang memberikan nilai tambah terhadap sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Kelebihan lain dari sifat kreatif yang melekat dalam diri pengusaha adalah kemampuannya untuk melihat peluang dalam masalah-masalah yang muncul di masyarakat, dan kemudian mampu menciptakan beragam produk dan jasa sebagai solusi untuk mengatasi masalah dan tentunya juga meraih keuntungan. Atau yang sering kita tahu, para pengusaha yang kreatif biasanya mampu menemukan terobosan-terobosan baru sekaligus melakukan pembaharuan dari produk-produk yang sudah ada.

Adapun inovasi yang bisa dilihat dari pemilik toko tersebut adalah kemampuannya melihat peluang di pasar. Ketika semua toko-toko yang ada menjual benda-benda cindera mata yang hampir mirip, pemilik toko ini menyodorkan hal yang baru dengan menghadirkan produk-produk cindera mata yang lebh kental nuansa etnisnya. Sementara kreativitasnya bisa dilihat dari kemampuan memadukan produk-produk yang beragam etnik tersebut menjadi sebuah pajangan yang lengkap dan menarik tanpa menghilangkan unsur-unsur khasnya sekaligus mengkomposisikan harga yang saling menutupi dari harga yang murah dan terjangkau sampai pada level harga yang tinggi.

2)Kemampuan Melihat Pasar
Kim dan Mauborgne dalam bukunya Blue Ocean Strategy, yang menggambarkan pergeseran paradigma dalam aksi strategis, membagi dunia strategi bisnis dalam dua samudra, yaitu red ocean dan blue ocean. Dalam red ocean, perusahaan fokus pada pertarungan di lanskap kompetisi yang sudah ada. Perusahaan saling bertempur hingga berdarah-darah. Cara yang cerdas untuk menghadapi situasi ini adalah melompat ke blue ocean. Samudra biru adalah area baru yang diciptakan dengan kreativitas dan imajinasi. Di blue ocean inilah perusahaan menciptakan aturan main sendiri, menciptakan pasar sendiri dan membuat kompetisi berikut kompetitor yang baku hantam menjadi tidak lagi relevan. Enam prinsip yang dapat digunakan oleh setiap perusahaan untuk merumuskan dan menerapkan strategi samudra biru dengan sukses :
a) Cara merekonstruksi batas-batas pasar,
b) Berfokus pada gambaran besar,
c) Melampaui tuntutan yang ada,
d) Merancang rangkaian strategi dengan benar,
e) Mengatasi rintangan-rintangan organisasional,
f) Mengintegrasikan eksekusi ke dalam strategi.

Pemilik toko ini mampu melihat peluang pasar, bahwa di ITC Ambassador belum ada yang menjual produk-produk etnis. Dia tidak memilih di red ocean untuk bersaing dengan pasar cindera mata yang sudah ada, tetapi lebih memilih berada di blue ocean dengan menciptakan pasar tersendiri.

3) Kekuatan Pemasaran
Pemasaran terhadap produk yang ada di toko ini terbantu dengan pemasaran yang dilakukan oleh Manajemen ITC Ambassador. Dengan sendirinya, pihak manajemen sudah melakukan pemsaran dengan biaya yang besar untuk menghadirkan pembeli ke pasar yang telah diciptakannya. Inilah kemudahan yang didapatkan ketika membuka usaha di daerah yang secara pangsa pasar sudah jelas. Hampir bisa dikatakan, pemasaran yang dilakukan tidak ada. Hanya mengandalkan kehadiran pembeli yang berkunjung ke ITC baik yang sengaja mau beli produknya maupun yang tidak sengaja lewat dan tertarik dengan produk-produk khas yang dijajakan.

4) Kemampuan Jaringan
Sebagaimana yang sudah disinggung pada tulisan di atas, selain mengandalkan pengunjung sebagai konsumen atau pembeli barang-barang yang mereka jual, pemilik toko ini juga sudah memiliki pelangggan yang tetap dari beberapa salon spa khususnya untuk produk-produk perlengkapan spa dari Bali. Tentunya hal ini bisa mendukungnya untuk lebih dapat bertahan.

5) Pelayanan Pelanggan
Untuk masalah pelayanan terhadap pelanggan atau pembeli, toko ini agak lemah. Pelayan toko cenderung kurang peduli dan kurang ramah menyapa calon pembeli sehingga menimbulkan keraguan calon pembeli untuk bertransaksi. Sepertinya, kekuatan toko ini hanya terletak pada produk yang dijajakan dan aroma etnik yang khas sebagai daya tarik pengunjung.

D. Penutup
Kekuatan wirausaha terletak pada kreativitas dan inovasi wirausahawan, baik dalam melihat peluang pasar maupun dalam memunculkan produk-produk yang unik dan menarik di pasar. Sementara kekuatan pemasaran, jaringan, dan pelayanan pada pelanggan merupakan kekuatan pendukung untuk eksistensi bisnis yang dilakukan.

E. Daftar Pustaka

Zimmerer, Thomas W dan Norman M.Scarborough. Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil. Bahan Mengajar.

http://www.pengusahamuslim.com
http://http://id.wikipedia.org

About Sabila Komputama

Hanung Anggo Yudanto HP : 081226062343

Posted on 23 Maret 2009, in Bisnis Offline, Bisnis Online, Info Hanung, Motivasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: