Makna Kalimat Syahadat

LAA ILAAHA ILLALLOH Makna, Rukun dan Konsekuensinya

Sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk memahami apa makna
(pengertian) kalimat Laa ilaaha illalloh yang benar itu, juga paham
rukun-rukunnya dan konsekuensi (tanggung jawab moral) bagi orang yang
mengucapkan atau mengikrarkan kalimat tersebut. Insya Allah, uraian
ringkas ini memberikan jawaban atas tiga masalah tersebut di atas.

Saudaraku kaum muslimin, bila anda ditanya apa makna kalimat Laa ilaaha
illallah itu, maka jawablah dengan tegas “Tidak ada yang berhak di
sembah kecuali Allah” atau “ Tidak ada sesembahan yang benar kecuali
Allah “.

Jadi, segala sesuatu yang di jadikan sesembahan oleh manusia, baik itu
berupa berhala-berhala atau patung-patung, pepohonan, batu-batuan atau
kuburan-kuburan yang di keramatkan, jin-jin dan setan, atau orang-orang
sholih yang telah mati baik berupa para Nabi atau para Wali, maka itu
semua adalah sesembahan yang bhatil (salah).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam firman Nya : “Yang demikian
itu adalah karena sesungguhnya Allah Dia-lah (sesembahan) yang Haq, dan
sesungguhnya apa yang mereka sembah selain Allah itulah yang batil, dan
sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. “ (QS.
Al-Hajj : 62 dan Luqman : 30).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman : “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak
ada yang berhak di sembah kecuali Allah. “(QS. Muhammad : 19).

Syaikh Sholih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafidhahullah menjelaskan
bahwa makna kalimat tersebut secara global adalah “Tidak ada sesembahan
yang haq (benar) selain Allah !” Hal ini karena khobar “Laa” dalam
kalimat Laa ilaaha illalloh harus di takdirkan dengan “Bi haqqin” (Yang
haq), tidak boleh hanya di takdirkan dengan “Maujuudun” (Ada). Karena
kalau hanya ditafsirkan dengan “Tidak ada sesembahan lain selain
Allah”, hal ini menyalahi kenyataan yang ada, karena kenyataannya
justru tuhan-tuhan selain Allah yang di sembah oleh manusia itu banyak
sekali. Hal itu juga akan mengandung arti bahwa menyembah tuhan-tuhan
tersebut adalah beribadah juga untuk Allah, hal ini tentu merupakan
kbathilan yang nyata !.

Kemudian, kalimat Laa ilaaha illalloh itu ternyata telah di tafsirkan dengan beberapa penafsiran yang bathil di antaranya :

Pertama : Laa ilaaha illalloh di artikan dengan “Tidak ada Tuhan selain
Allah”. Ini adalah penafsiran yang bathil, karena hal itu mengandung
pengertian : Sesungguhnya setiap yang di sembah atau di ibadahi, baik
yang haq atau yang bathil, hal itu adalah Allah. Tentu hal ini tidak
bisa di terima !

Kedua : Laa ilaaha illalloh di artikan dengan “Tidak ada pencipta
selain Allah”. Sesungguhnya ini adalah sebagian saja dari arti kalimat
laa ilaaha illalloh tersebut. Akan tetapi bukan ini yang di maksud,
karena arti ini hanya mengakui Tauhid Rububiyyah saja, dan hal ini
belum cukup.

Ketiga : Laa ilaaha illalloh di artikan dengan “Tidak ada Hakim
(Penentu Hukum) selain Allah”. Ini juga sebagian saja dari makna
kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi bukan itu yang di maksud, karena
makna tersebut belum cukup.

Jadi semua tafsiran tersebut diatas adalah bathil atau kurang sempurna.
Sedang tafsir ( penjelasan makna ) yang benar menurut para ulama salaf
dan para Muhaqqiq (Ulama peneliti) adalah “Laa Ma’budu bii haqqin
illalloh” (Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah atau Tidak ada
yang berhak diibadahi kecuali Allah) Wallahu a’lamu bish showwab.

Kemudian, jika ditanya juga tentang apa Rukun Laa ilaaha illalloh itu ?
Maka jawablah dengan tegas : Laa ilaaha illalloh itu mempunyai dua
rukun :

Pertama : An-Nafyu (peniadaan / meniadaan), yaitu meniadakan atau
meninggalkan seluruh bentuk sesembahan yang di agungkan dan di puja
oleh umat manusia selain Allah. Hal ini tercermin dalam lafadz “Laa
ilaaha” (Tidak ada sesembahan yang benar),

Kedua : Al-Istbaat (Menetapkan), yaitu menetapkan dengan penuh
keyakinan bahwa satu-satunya yang berhak di ibadahi atau di sembah
hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini
tercermin dalam lafadz “illalloh” (kecuali Allah).

Dua rukun tersebut diatas, banyak di sebut-sebut dalam Al-Qur’an,
misalnya firman Allah Ta’ala : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki)
agama (Islam), sesungguhnya telah jelas mana jalan yang benar dan mana
jalan yang sesat. Karena itu barang siapa ingkar kepada thoghut (yakni
setan atau apa saja yang di sembah selain Allah, ed) dan beriman kepada
Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat
kuat (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh) yang tidak akan putus, dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. “(QS. Al-Baqoroh : 256).

Dalam ayat tersebut diatas, firman Allah yang berbunyi “Barang siapa
ingkar kepada thoghut” ini adalah makna dari “Laa ilaaha”, sebagai
rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah “Dan beriman kepada Allah”,
ini adalah makna dari “illalloh”, sebagai rukun yang kedua.

Contoh lainnya adalah seperti dalam ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
yang diabadikan dalam firman Allah : “…….sesungguhnya aku berlepas diri
terhadap apa yang kalian sembah, tetapi (aku hanya menyembah) kepada
Tuhan yang menjadikanku, karena sesungguhnya Dia yang memberi hidayah
kepadaku.” (QS. Az-Zuhruf : 26-27).

Dalam ayat tersebut, firman Allah yang berbunyi “Sesungguhnya aku
berlepas diri”, ini adalah makna An-Nafyu (peniadaan), sebagai rukun
yang pertama. Sedangkan firman Allah “Tetapi (aku hanyalah menyembah)
Tuhan yang menjadikanku”, ini adalah makna Al-Istbaat (penetapan),
sebagai rukun yang kedua ! Wallahu a’lam.

Kemudian, apa konsekuensi (tanggung jawab moral) bagi orang yang
mengucapkan kalimat tersebut ? Jawabannya pasti, yaitu wajib baginya
untuk meninggalkan semua bentuk peribadatan kepada selain Allah, dan
hanya beribadah secara murni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan :
“Dengan demikian jelaslah, bahwa mengucapkan Laa ilaaha illalloh itu
haruslah yakin dengan kewajiban ibadah yang hanya di tujukan kepada
Allah Ta’ala saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mengikrarkannya baik
secara lisan maupun keyakinan. Disamping keharusan ibadah kepada Allah
saja, tunduk dan taat kepada-Nya juga harus baro’ ( berlepas diri )
kepada selain-Nya dalam hal ibadah, ketaatan dan ketundukan…..”

Walhasil, orang yang telah mengikrarkan kalimat Laa ilaaha illalloh,
dia adalah orang yang mantap ibadanya kepada Allah, tidak punya
keinginan sedikitpun untuk beribadah kepada selain-Nya. Dan orang
seperti ini, akan di jamin masuk surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa
mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, lalu mengingkari apa saja yang
di sembah selain Allah, maka dia akan masuk surga. “(HR. Muslim, Ahmad
dan Thabrani).
Saudaraku muslimin, semoga kita semua di jadikan-Nya termasuk
orang-orang yang di sabdakan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa
sallam sebagaimana hadist tersbut diatas.

Wallahu waliyyut taufiq.

Maraji’ :
1. Makna Laa ilaaha illallah, karya syaikh Dr. Sholih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
2. At-tauhid, lish Shoffil Awwal Al-‘Aliyya, karya syaikh Dr. Sholih Fauzan
3. Al-Qoulus Sadid fii Adillatit Tauhid, karya syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
4. Al-Qaulul Mufid fii Adillatit Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Abdil Ali Al-Washobi.

Sumber :BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 10 / Dzulhijjah / 1424

About Sabila Komputama

Hanung Anggo Yudanto HP : 081226062343

Posted on 28 Juli 2009, in Islam Kaffah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: